YANG GEMUK DI JALAN DAKWAH
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” (K.H. Ahmad Dahlan) Tulisan ini bukan hanya ditujukan kepada warga Muhammadiyah, tetapi kepada siapa saja yang menjadi obyek, pelaku bahkan pengamat dakwah. Untuk memulainya ada baiknya kita simak kisah dalam sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang sahabat yang sangat miskin. Sahabat ini bernama Tsa’labah. Beliau dianugerahi semangat ibadah dan dakwah yang luar biasa minus kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Hingga dengan penuh harap meminta Rasulullah mendoakan agar dimudahkan rizkinya oleh Allah SWT, dengan harapan ia dapat lebih semangat beribadah dan berdakwah. Akan tetapi setelah dibukan rizki, bisnisnya jaya, ternaknya berlimpah, pakaiannya tidak harus bergantian dengan istrinya...apa yang terjadi : dunia memalingkannya dari akhirat. Ketahuilah dunia itu hijau dan manis, tetapi yang paling bahagia adalah yang paling membencinya, sedangkan yang paling sengsara adalah yang paling menginginkannya. Dunia akan menipu orang yang meminta nasihatnya dan menyesatkan orang yang menaatinya. Dunia adalah tempat kesusahan, bukan kesenangan. Orang yang mengetahuinya, tidak gembira dengan kelapangan yang didapat atau bersedih karena kesengsaraan yang dialaminya. Allah menjadikan pahala akhirat sebagai kompensasi dari ujian dunia. Dunia boleh di tangan tapi tidak boleh merasuk ke dalam hati dan jiwa seorang mukmin. Hati seorang mukmin sudah qonaah dengan janji Allah SWT tentang jannah yang akan diraihnya bila ia mati dalam khusnul khatimah, atau meraih gelar syuhada dari Allah SWT. Fase dakwah sudah berada di tikungan sejarah. Seperti ketika Rasullah SAW bersama para sahabat dalam fase perang Hunain. Banyak di kalangan sahabat yang terkena penyakit :”Idz a’jabatkum bikatsratikum.” Dan gejala (baru gejala) penyakit wahn mulai mewabah. Allah memberikan ujian lewat perang ini. Hampir saja umat Islam dikalahkan oleh musuh-musuh Islam saat itu. Atas nikmat dan pertolongan Allah kekalahan yang di depan mata menjadi kemenangan. Ujian itu pun belum berakhir, ghanimah adalah ujian selanjutnya. Harta yang me;limpah ruah menggoda keimanan para sahabat binaan Rasulullah. Karena tabiat bagi pencari akhirat; dunia akan datang mengodanya. Keadilan Rasulullah sempat digugat. Tetapi akhirnya teruji mana loyang dan mana emas. Mana mukmin dan mana munafik. Mana ahli akhirat dan mana ahli dunia. (Semoga kita termasuk golongan ahli akhirat, dan berhak atas ridlo dan jannah Allah SWT). Mereka yang mendahulukan akhirat daripada dunia memilih (menaati) Rasulullah daripada berebut dengan orang yang baru dibukakan hatinya oleh iman dan masih tergoda oleh harta dunia (mualaf Islam dan dakwah sekaligus). Itulah itsar ahli Madinah yang sempat termakan isu bahwa Rasulullah mendahulukan kaumnya dari kaum Anshar. Itulah penguji keimanan “ghanimah”. Maka dalam surat An-Nashr ayat 1 sampai 3 disebutkan : “Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka tasbihlah engkau sertu memuji Rabb-Mu dan minta ampunlah engkau kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Penerima Taubat.” Jadi kalau anda adalah seorang dai yang dahulu sering berjalan kaki atau bersepeda pancal dengan Al-Quran di saku ata tas anda, kemudian saat ini anda duduk sebagai anggota dewan yang terhormat (saya kurang setuju dengan istilah ini, sebab dimana-mana yang namanya suatu jabatan lebih tinggi daripada wakilnya- rakyat lebih tinggi dan terhormat daripada wakilnya-red) berjas dan berdasi, sering ‘wiridan sms’ dengan hp model terbaru, kendaraan paling nyaman se-Indonesia, fasilitas kehidupan yang serba ‘ada’, wewenang dan pengaruh yang mempesona anda.......waspadalah, sekuat apapun keimanan anda, anda adalah manusia yang lemah dan hina dina....apalagi kalau perut sudah mulai buncit....atau anda adalah aktivis mahasiswa yang lebih makmur dari rekan anda yang berwira usaha....atau anda adalah ustadz lulusan Timur Tengah yang laris dimana-mana, dengan penghasilan melebihi lulusan Chicago University...atau anda termasuk yang jualan label ‘syariah’, tanpa memiliki keseriusan memperjuangkan syariah Allah dan hanya ikut-ikutan saja meraih pangsa pasar umat...waspadalah, apalagi kalau anda berlimpah nikmat padahal anda bergelimang maksiat, itulah istidraj...sekali lagi waspadalah, kejahatan tidak hanya disebabkan oleh niat dari si pelaku tetapi seringkali juga disebabkan karena adanya kesempatan, waspadalah.........waspadalah.......waspadalah (kata Bang Napi).

Comments